Berikut ini merupakan daftar 100 judul judul cerpen kiriman terbaru dari para kontributor Cerpenmu.com minggu ini
Cinderella’s After Story | Oleh: Nina
Nyanyikan Untuk Ku Lagu Selamat Ulang Tahun | Oleh: Igant Erisza Maudyna
Aku Dan Gelar Sarjana Ku | Oleh: Igant Erisza Maudyna
Kiara | Oleh: Igant Erisza Maudyna
Finger’s Sparkle | Oleh: Igant Erisza Maudyna
The Witches | Oleh: Alessia Glavyn
Kisah Antara Aku, Kamu Dan Dia | Oleh: Siti Mudrikah
Bebek Kesurupan | Oleh: Ahmad Nanda Maulana
Cinta Ujian Awal Iman | Oleh: Helda Wahyuni
Pengorbanan Cinta | Oleh: Lailatul Kurnia
Tak Ku Sangka | Oleh: Ira Rianti
Seribu Malaikat | Oleh: Nebula Salnia
5 Bulan Menghilang Aku Sendiri | Oleh: Radek Gusti Arisy
Lampion tanggal 4 Februari | Oleh: Nofita RS
Expelled | Oleh: Ririka Lilika
Mengaku Ahlul Sunah Wal Jamaah | Oleh: Rinasya Permana
Dua Jam Yang Lalu | Oleh: Deasy Lutviana
Halte | Oleh: Rizal Rahman
Losari Di Pantai Losari | Oleh: Yuni Lestari
So Into You | Oleh: Widiani Larasati
Cinta Yang Terkunci | Oleh: Yuris
Begini Nasib Fotomu di Astakar | Oleh: Fabby Pigome
All Are Friends | Oleh: Salwa Al-huwayna
Kemenangan Di Tangan Kita | Oleh: Lukman Umar
Perfectionis | Oleh: Zula
Kisah Cinta Pertama Ku | Oleh: Fauzi Maulana
Couple | Oleh: Anjar Desynta Arum
Penulis Dari Timur Negeri | Oleh: Ria Ratoe Oedjoe
Rindu Tuhan | Oleh: Sri Ayu
Marie | Oleh: Rana Dakka
Cinta Dan Buaya | Oleh: Muhammad Arsyad
Memory of Love | Oleh: Sidki Gunawan
Burung Kertas | Oleh: Yuni Lestari
Arini | Oleh: Fathurrizal
Halloween Night, Our Destiny Is Here | Oleh: Fauzi Maulana
Di Balik Senja | Oleh: Mitha Fetrianti
The Last Date | Oleh: Iffatuzzahra
Teka Teki Si Klimis | Oleh: Sarah Adinda
Emosi Cinta | Oleh: Lany Pono
Equity Tower I’m In Love | Oleh: Khairunisa Fitriani
My Story Love | Oleh: Stefanie Risal
Pengalaman Sekolah Baru Ku | Oleh: Rendra Malikul Faro
My School My Experience | Oleh: Audrey Zefanya S
Asmara Belia | Oleh: Erlin Cardiva
Tuhan Memang Suka Begitu | Oleh: Nanda Insadani
Antara Kau Dan Dia | Oleh: Rani Vidiarti
Yuki to Memories | Oleh: Fauzi Prima
Cinta Ku Kau Terlantarkan | Oleh: Daini
A Good Holiday | Oleh: Janice Shalom Gunawan
Bidadari Surga | Oleh: Sevhia Nursolihat
You Belong With Me | Oleh: Rofikotul Husna
Merindukan Mu | Oleh: Rana Dakka
34 Km | Oleh: Nofita RS
Persahabatan Yang Tak Disadari | Oleh: Sirrotul Anjalina
Kekasih Gelap | Oleh: Tuti Ratna Dwiva
Seseorang Di Dunia Maya | Oleh: Khaiz Badaru Tammam
Dunia | Oleh: Desy Ristyantini
Tekanan Batin Cinta | Oleh: Andi S Kurniawan
Ternyata, Aku Seberuntung Ini | Oleh: Andri Bangun Prabowo
Cinta VS Perbedaan | Oleh: Stefanie A. Jaflaun
Fotografi | Oleh: Yosie Novianlius
Hantu Pohon Beringin | Oleh: Elsa Puspita Ronald
Edelweis | Oleh: Yeni Ari Safitri
Pria Itu Aku | Oleh: Ayu Gita
Lidya Si Penyihir Putih | Oleh: Putri Br Manulang
SMA Jaeguk | Oleh: Ditania Raya
Black Ribbon | Oleh: Tsuroya M L Azzahra
Kita | Oleh: Alfi Anna
Kursi Tunggu | Oleh: M. Ubayyu Rikza
Konspirasi | Oleh: Sabila Nadhirah K
Menuju Old Traford | Oleh: Anil Safrianza
Dia Cemburu | Oleh: Amay Nasya
Lelaki Misterius | Oleh: Era Elfriana Sitanggang
Diary Ingatan Ku | Oleh: Ella Yolanda
I Am Psikopat | Oleh: Ella Yolanda
Good Life | Oleh: Ella Yolanda
Waktu Di Balik Senja (Part 5) | Oleh: Ella Yolanda
Waktu Di Balik Senja (Part 4) | Oleh: Ella Yolanda
Waktu Di Balik Senja (Part 3) | Oleh: Ella Yolanda
Waktu Di Balik Senja (Part 2) | Oleh: Ella Yolanda
Waktu Di Balik Senja (Part 1) | Oleh: Ella Yolanda
Catatan Rizi Yang Tak Terlihat | Oleh: Jamaluddin Akbar
Unfortunately It’s Just A Dream | Oleh: Nandita Putri
Hujan Bersama Kenangan | Oleh: Dini Feby
Mother, I Love You | Oleh: Osilia Deva Firdaus
3 Permintaan | Oleh: Salsabila Husniyya
Janji Kita | Oleh: Amelia
Kei’s Novel (Part 1) | Oleh: Indra Wahid
Bidadari Berkacamata | Oleh: Safrizal Annur Huda
Ayunan Ban Mobil | Oleh: Elsa Puspita Ronald
Menemukan Lorong Waktu | Oleh: Sidik Hidayat
Misteri Kost Nomor 13 | Oleh: Pius Puspa Wirawan
Harapan Seorang Anak | Oleh: Muhammad Arsyad
Sarjana | Oleh: Muhammad Arsyad
WC Belakang | Oleh: Mumtazrd
Cinta Berujung Tragis | Oleh: Salsabila Tjaturangga
Titipan Untuk Sahabat | Oleh: Salsabila Hantoro
Masquerade | Oleh: Salma Nur Adinda
Apple Tree | Oleh: Aventa Venna
Blecky Jatuh Cinta | Oleh: Elsa Puspita Ronald
Tweet
https://blogspot.com
Sabtu, 20 Februari 2016
Jumat, 19 Februari 2016
CERPEN TENTANG PERSAHABATAN
PERSAHABATAN
Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu.
Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas.
“Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas.
“Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella.
“Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat.
Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah.
Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam.
“Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella.
Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.
Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu.
Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas.
“Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas.
“Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella.
“Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat.
Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah.
Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam.
“Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella.
Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.
BY.Dikamaull08 :)
Langganan:
Komentar (Atom)